Jumat, 07 Desember 2012

Awal dari sesuatu terjadi #1

Aku seorang yang bebas, yang kuat, itu yang ada dipikiranku saat aku baru menjadi mahasiswa di Universitas Diponegoro, Semarang sekitaran tahun 2009. Dimana di Semarang ini, aku benar2 tidak mempunyai saudara, benar2 tempat yang asing bagiku.  Karena benar2 asing, tempat kosku pertama kali adalah wisma dimana yang tinggal disitu adalah cewek2 berjilbab panjang. Setahun aku terjebak-begitu biasa kubilang, disana. Sementara itu, aku merasakan kebebasan, karena aku adalah seorang perantauan. Apalagi di Semarang ini aku diberi fasilitas sepeda motor Honda Supra Fit saat itu. Aku senang sekali karena memang baru saat kuliah ini aku bisa mengendarai motor. Dengan bermodalkan motor tersebut, kadang setelah selesai kuliah, aku menjelajahi daerah disekitaran kampus. Toh kalo nyasar aku bisa tanya, pikirku saat itu. Kegemaranku diberikan kebebasan mengendarai motor itu terasa masih kurang pas jika hanya menjelajahi daerah2 yang dekat2 saja. Apalagi saat itu aku sudah lihai sekali mengendarai Fito, nama yang aku berikan untuk motor Honda Supra Fit ku. Alhasil saat hari libur, aku menjajal mengendarai motor dengan rute Semarang-Wates yang ditempuh sekitar 4 jam. Wates ini adalah daerah dimana nenek dan kakek dari ibuku tinggal, letaknya antara Jogjakarta dan Purworejo. Perjalanan pertama saat itu aku salah arah alias nyasar. Aku beritahukan padamu, Sobat. Jika kamu baru pertama kali melakukan perjalanan jauh, jangan tertipu dengan plang pengarah jalan. Saat pertama kali kamu menemukan plang dan disebutkan disitu tempat yang kau tuju, jika kau melewatinya maka didepan pasti ada plang lagi yang menunjukkan tempat yang kau tuju dan jika kau mengikuti plang yang kedua, itu akan lebih dekat. Sayangnya saat itu aku mengikuti plang yang pertama dan alhasil aku melewati daerah dengan jalan meliuk2, seperti melewati pegunungan. Padahal saat itu sudah dekat, aku tinggal menuju daerah Jogjakarta dan sebelum masuk kota, aku harus berjalan kearah Purworejo. Jalan meliuk2 tersebut memang jalan ke Wates, tapi sebagai pemula dan aku tidak tahu kapan jalan itu berakhir (karena terasa lama sekali), jalan itu terasa lama sekalii.. Sesekali aku bertanya pada orang sekitar situ, mereka bilang, "iya benar, ini kearah wates. mbak luruuuuus saja". Akhirnya setelah kesabaranku dan keikhlasanku aku sampai kedaerah yang kukenal. Oya, daerah yang jalannya meliuk2 tadi bernama Nanggulan, Sobat. Sampai di tempat kakek dan nenekku, ada ibu dan saudara2ku yang kebetulan juga sedang berlibur. Mereka menatap tidak percaya jika aku bisa naik motor perjalanan Semarang-Wates karena selama ini aku tidak bisa naik motor. Karena keasikan dengan hobi baruku ini, aku sering datang berlibur ke tempat mbahku di Wates itu menggunakan motor. Apalagi saat itu Fito diputuskan untuk dijual dan digantikan dengan Honda Beat yang akhirnya dijual. Saat itu mbahku memiliki sepeda motor banyak dirumah tapi tidak terpakai, karenanya diberikan satu kepadaku dan aku harus mengambilnya dengan melakukan perjalanan Wates-Semarang mmenggunakan motor. Pergantian motor dari mbahku itu berlangsung 2 kali Sobat. Dan sekarang yang terakhir yang sedang aku gunakan, sepeda motor Honda Supra-X keluaran lama.
Oh iya Sobat, aku ingin ceritakan padamu tentang pengalamanku saat aku mengambil motor terakhirku yang bernopol AB 2411 JC itu. Saat perjalanan menuju Semarang, memang saat itu musim sedang hujan dan aku masih tidak memiliki mantel, beli dijalan saja pikirku waktu itu. Belum sempat aku membeli mantel, saat sampai daerah Magelang, hujan turun dengan derasnya. Aku terus mengendarai motorku dengan perlahan sambil melihat2 kearah pinggir jalan kali saja ada toko jual mantel yang buka. Ternyata sampai aku mau keluar Magelang, nihil Sobat. Memang saat itu sudah pukul 5 sore dan kebetulan hari Minggu. Toko2 tutup gasik pada hari itu. Aku bertahan Sobat, aku terus saja mengendarai perlahan sambil mengusap2 kacamataku yang bermbun kena air hujan. Kadang pula mengusap2 tanganku yang diterjang hujan terasa seakan ditusuk2 oleh derasnya hujan.. Memasuki kawasan pegunungan dimana tidak ada orang berjualan aku mulai mempercepat laju kendaraan karena hari pun sudah mulai malam.. Sampai daerah Ambarawa semua toko tutup, aku bertahan Sobat. Entahlah saat itu dari Magelang tadi, hujannya sangat awet. Kadang gerimis rintik, kadang hujan deraspun menerpa aku dan sepeda motor yang baru saja ku ambil dari mbahku. Sempat aku berteduh di POM daerah Ambarawa karena keadaanku yang menggigil. Aku menumpang ke toilet saat itu. Karena rasa menggigilku tidak kunjung berhenti, aku meneruskan perjalanan karena hari pun sudah benar2 gelap. Terus aku berjalan hingga memasuki daerah Bandungan, badan masih menggigil Sobat, gigiku gemeretak satu dengan yang lain, celana jins yang kupakai sudah basah, terasa berat dipakai. Untungnya saat itu hujan sudah tidak terlalu deras, tapi tetap saja jalanan masih licin, jadi tidak bisa seenaknya ngebut. Yah, aku menahan saja rasa kedinginanku saat itu. Akhirnya sampai juga di wisma Sobat dan untungnya pintu belum ditutup(memang ada jam malam wisma dimana jika sudah melewati jam malam tersebut, pintu akan ditutup). Sampai disana tidak ada yang menyambutku dan bertanya padaku mengapa kebasahan seperti itu. Tak peduli juga dengan orang2 disana, aku cepat2 membersihkan badan dan ganti pakaian, dan langsung tidur. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan terasa dingin sekali..
Iya itu sedikit pengalaman dan tak pernah kulupakan. Karena pengalaman tersebut dan rasa puas anak muda, setiap aku pulang ke tempat mbahku di Wates, selalu naik motor. Bahkan lebaran pun aku beranikan diri untuk mengendarai sepeda motor untuk pulang ke Wates.
Namun, sesuatu terjadi....... Hal yang tidak pernah aku pikirkan sama sekali, suatu hal yang tidak kuinginkan hadir dalam hidupku tiba2 datang dan masih menemani hingga saat ini.