Rabu, 13 Februari 2013

Awal dari sesuatu terjadi #3

Kenapa aku membagi cerita ini secara serie Sobat,? agar kau tau, agar kalian tahu langkah2 yang telah aku dan keluargaku jalani ditengah kebingungan ini dan aku hanya sekedar ingin bercerita...selain mengeluhkan semua ini pada sang pencipta, aku hanya ingin sekedar bercerita, berbagi pengalaman hidupku...

Setelah divonis aku harus menjalani kemoterapi, aku dan keluarga masih mencari tau apakah harus dilakukan tindakan kemoterapi tersebut.. karena saat itu ibuku sedang rajin mengikuti freelance dari Tianshi yang menjual produk2 suplemen kesehatan dan kebetulan saat itu ada saudara dekat yang mengetahui aku mengidap penyakit KGB ini, aku dibawa ke klinik Tianshi dan mengkonsultasikan hasil dari biopsi tersebut.. kami bawa hasil biopsi yang nantinya akan di analisa dan berbeda dengan klinik dokter lain yang setelah pulang membawa resep obat berbagai merk, klinik dokter Tianshi ini nantinya kami diberikan resep suplemen dari Tianshi. Saat itulah aku mencoba pengobatan untuk mengkonsumsi suplemen Tianshi selama 3 bulan dan menyatakan untuk tidak dilaksanakan tindakan kemoterapi. Sebelumnya juga sudah ada pasien penderita KGB sembuh setelah mengkonsumsi suplemen Tianshi itu. Jadilah aku berencana akan mengkonsumsinya selama bulan Maret 2011- Mei 2011.
Libur telah usai, saatnya kembali ke Semarang..aku mengkonsumsi suplemen Tianshi tersebut berikut memantang makanan yang harus dimakan..seperti tidak mengkonsumsi seafood, junkfood, mengkonsumsi sayuran tiap hari, aku lakukan sembari mengkonsumsi suplemen Tianshi tersebut.. Bulan pertama tubuhku masih dapat melaksanakan metabolismenya dengan baik dan benar..menyambut bulan kedua pemakaian, makanan yang telah aku makan keluar kembali sesaat setelah aku mengkonsumsi suplemen dari Tianshi. Mungkin memang ini dimulainya reaksi suplemen terhadap penyakitku, pikirku saat itu. Aku terus mengkonsumsinya sampai pada suatu waktu pengeluaran makanan (baca:muntah) sudah terlalu sering aku alami. Bahkan memakan makanan biasa pun-telur atau tempe goreng-akhirnya akan keluar lagi setelah aku mengkonsumsi suplemen Tianshi tersebut.. Menjelang 3 bulan pemakaian, aku lapor pada ibuku di rumah bagaimana keadaanku saat itu. Aku juga menginfokan hal tersebut pada kakakku yang memang sudah tidak tidak tinggal lagi bersama ibuku melainkan dengan istrinya di Jakarta. Karena dampak yang agak sedikit mengganggu aktifitasku itu, kakakku menawarkan obat propolis, kali ini berasal dari air liur lebah yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit kanker.. Memang sudah ada yang terbukti sembuh.. Propolis ini lain daripada yang lain, karena bentuknya tidak kapsul seperti suplemen Tianshi tapi berbentuk cairan. Bentuknya dikemas seperti obat tetes mata, pemakaiannya pun dalam satu hari 3 kali minum dimana sekali minum butuh 6 tetes dan itu sangat pahit, jadi harus ditambahkan madu. Setiap pagi berangkat kuliah, aku membawa air kemasan aqua 330 mL yang sebelumnya udah aku teteskan propolis 16 kali, 1 botol air mineral itu aku bagi jadi 3 bagian untuk pagi, siang dan malem..awalnya pahit, tapi aku tahan dan akhirnya terbiasa..batuk dan muntah yang aku alami saat mengkonsumsi suplemen Tianshi berangsur2 berkurang,,,sampai suatu saat kiriman propolis dari kakakku berhenti....

Awal dari sesuatu terjadi #2

Sesuatu yang merubah hidupku terjadi...
Entah persisnya waktu yang keberapa detik, menit atau jam dan tanggal... Aku melihat benjolan di daerah leherku sebelah kanan.. Aku tidak mengambil pusing saat itu karena saat aku lapor pada ibuku pun beliau berpikir itu hanya sebuah benjolan. Besarnya hanya seperempat telur bulat..
Sampai suatu saat benjolan itu membuat risih kegiatanku saat menengok ke sebelah kanan, terasa makin membesar saja.. Dan aku ingat saat itu bulan Februari tahun 2011, aku memprediksikan ada yang tidak beres, segeralah saat itu aku dan ibuku memutuskan untuk memeriksa penyakit apa yang sedang aku alami.. Bulan Februari saat itu aku sedang kebetulan berada di Tangerang karena memang jadwal perkuliahan libur, peralihan dari semester 3 (ganjil) ke semester 4 (genap). Awal mula aku periksakan diri ke Rumah Sakit Melati Tangerang, melewati dokter umum-yang saat itu juga bingung apa sebenarnya penyakitku ini. Kemudian dirujuk ke salah satu dokter penyakit dalam yang mereka miliki dan cerita singkatnya sang dokter spesialis dalam yang mereka miliki menyatakan benjolan itu adalah sebuah "massa" yang harus ditindaklanjuti apa yang dimaksud dengan massa tersebut. Dengan berbekal penjelasan singkat yang diberikan dokter penyakit dalam tersebut, aku mendengar kata-kata asing yang beru pertama kali kudengar, yaitu biopsi, kelenjar getah bening, limfoma hodgkin, operasi sumsum tulang belakang. Saat itu wajahku hanya memperlihatkan ekspresi keheranan. Apa itu? Apakah arti dari kata-kata yang baru kudengar saat itu? Berbekal rasa keheranan yang sanagt tinggi, google dan alat pencari internet, aku mendapatkan bahwa arti dari kata-kata tersebut jika diartikan secara singkat adalah "aku terkena penyakit kelenjar getah bening (KGB)". Begitu luas, apakah aku ini hanya terkena tumornya atau kanker, tindakan apa yang harus dilakukan mengingat tidak ada sejarah turun temurunku yang mengidap penyakit seperti itu. 
Penyelidikan kasus penyakitku ini tiba-tiba mengalir begitu saja.. langkah-langkah yang harus dilakukan, kemana jalur yang akan ditempuh, karena memang jujur sekali keluargaku pun bingung apa yang harus dilakukan. Ibuku pun bingung karena masih tidak tahu apa penyebab aku mengidap penyakit ini. Jangankan ibuku, aku pun tidak tahu ! Saat itu aku masih merasa semua akan baik2 saja..

Tahap awal yang kami lakukan saat itu adalah menuruti apa yang dikatakan RS Melati. Pihak mereka berusaha semampunya untuk tahu sebenarnya penyakit apa yang kuderita. Mulailah pemeriksaan rontgen dimulai. Karena hasil rontgen masih tidak dapat menjelaskan detail penyakitku, aku disarankan menjalani CT Scan di RS berbeda, yaitu RS Usada Insani yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Sebelum menjalani CT Scan tersebut, kami berkonsultasi pada dokter yang disarankan RS melati. Setelah menjalani CT Scan yang ternyata harganya 2x lipat dengan rontgen, kami menjalani konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam tersebut. Jawaban beliau sangat singkat saat itu, karena menurutnya hasil CT Scan tidak cukup, maka aku harus menjalani biopsi. Sepenangkap keluarga kami yang jujur saat itu masih bingung apa yang harus dilakukan, biopsi adalah suatu langkah medis berupa pengambilan sampel benjolan yang ada di leher sebelah kananku iniuntuk nantinya hasil biopsi tersebut dianalisis, penyakit apa sebenarnya yang aku alami. Ini berbeda dengan operasi yang artinya mengangkat semua benjolan tersebut, biopsi hanyalah mengambil sebagian kecil dari benjolan tersebut untuk menganalisis penyakitku. Setelah melakukan biopsi, aku sempat dirawat sehari dan dapat pulang keesokan harinya karena hasil biopsi pun ternyata membutuhkan waktu seminggu untuk melihat hasilnya. Cukup sulit menjaga bekas jahitan di leher sebelah kananku-bekas biopsi- karena tidak boleh terkena air dan harus berganti kain kasa tiap hari selama seminggu. 
Seminggu kemudian, aku dan ibuku kembali ke RS Usada Insani dengan diiringi doa semoga semuanya akan baik-baik saja. Menanti dan menanti antrian, akhirnya namaku dipanggil. Dokter memeriksa hasil CT Scan, menjelaskan seadanya dan terdiam sambil menulis sesuatu di kertas. Terdiam tanpa kata dan selayaknya pasien yang berkonsultasi pastinya bertanya bagaimana hasil CT Scan dan biopsinya. dokter tersebut hanya mengatakan,
"Selanjutnya ya harus kemoterapi"
Bukan, bukan itu yang ingin aku dan ibuku ketahui! Aku ingin tahu sebenarnya apa penyakitku, bagaimana itu bisa terjadi!Bukan langkah selanjutnya yang baru aku dengar saat itu istilah kemoterapi. Karena aku merasa memiliki hak sebagai pasien untuk bertanya, aku tanyakan semua hal yang aku ingin tahu. Dari runtutan kata perkata, kalimat perkalimat yang aku pikir tidak dimengerti sama sekali oleh pasien awam seperti kami, yang ada dipikiranku aku terkena tumor kelenjar getah bening. Hanya tumor karena ukurannya masih kecil. Tidak, sebenarnya tidak hanya itu yang aku pikirkan. Aku bingung! Kau tahu bagaimana perasaan ibuku saat itu! Wanita yang hanya berpendidikan lulus SMEA, mendengar anak perempuan satu-satunya terkena penyakit aneh ini. Tumor?
Saat itu kata "tumor" mulai terbiasa terdengar di setiap pembicaraan keluarga kami.

Perlu kalian pahami sobat, saat ini, detik ini pun aku masih terkejut apa yang terjadi pada diriku saat Februari tahun 2011 itu.. yang dapat aku lakukan saat itu adalah mencari dan terus mencari tahu apa arti kemoterapi, dampaknya, apa harus langkah kemoterapi itu dijalani, harus kemana perjalanan ini, seperti bayi baru lahir yang dipaksa ibunya belajar menari. Tidak tahu langkah.