Senin, 01 April 2013

1 April :)

Hari seperti biasanya bapak ke rumah untuk nengokin aku, bagaimana keadaanku saat ini. Tapi ada yang berbeda karena hari ini adalah hari Senin tanggal 1 April. Bapak ulang tahun, tapi nggak tahu yang keberapa. Karena bapak sampai rumah udah jam setengah 8 dan aku juga udah selesai makan-biasanya ditungguin sampe selesai makan, Bapak langsung pamit berangkat kerja lagi. Sebelumnya aku tanya dulu apa bener ulang tahun tanggal 1. Yah, bapak sempet ngelak sih, bilangnya itu mah orang-orang Yahudi. Itu sih perayaannya yang ikutan orang Yahudi pak, tapi Bapak tetep lahir tanggal 1 kan? jelasku. Aku memberikan hadiah untuk Bapak, isinya 2 pasang kaos kaki hitam. Kenapa kaos kaki, hitam pula? Karena bapak aku amatin tiap pergi ke kantpr selalu pake kaos kaki hitam, bukan krem atau putih dengan alas hitam :)

Aku berdoa semoga di hari ulang tahun bapak kali ini, tidak hanya kali ini saja aku mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah. Aku ingin di 1 April tahun depan nanti akan ada kesempatan seperti ini lagi. Semoga setelah sembuh nanti, aku masih bisa bertemu Bapak.

Awal sesuatu terjadi #5

Setelah PKL yang memakan waktu sebulan, yang berakhir dengan tidak langsung dikumpulkannya laporan PKL, aku sudah harus pasti kembali ke Semarang untuk melanjutkan kuliah. Saat mulai masuk perkuliahan, tiba-tiba aku merasakan keanehan pada diriku. Saat aku masuk kamar kos-kosan, aku merasakan dadaku sesak sekali, padahal hanya berjalan sebentar. Apa yang aku rasakan itu aku abaikan karena aku pikir hanya kecapean saja. Setelah waktu berlalu dan sampai di akhir Maret, aku mulai penasaran apa yang terjadi padaku. Aku kemudian bercerita hal ini dengan temanku, Okky atau biasa kupanggil Oci. Aku ingin rontgen, seruku saat itu. Aku pikir apakah ada flek diparu-paruku? Aku meminta dia dan 2 teman cowok untuk mengantar ke Rumah Sakit St. Elisabeth. Besok malam harinya, kami berempat menuju kesana. Setelah masuk ruang UGD, dicek tensi darahnya dan ditanyai apa gejalanya sang dokter memutuskan aku untuk dirawat. Aku menceritakan bahwa aku memiliki penyakit kelenjar getah bening, sulit untuk tidur dan bernafas. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan sehingga mau saja aku dirawat. Dan baru kusadari jika memang harus dirawat, berarti aku harus diinfus!! Itu adalah kali pertamanya aku diinfus lagi semenjak tindakan biopsi yang pernah kulakukan dulu. Itu adalah hari pertamaku diinfus saat di Semarang dan tidak ada Ibuku. Saat itu aku menangis sambil memegang erat lengan perawat laki-laki disampingku, benar-benar seperti anak kecil. Setelah semua data yang dibutuhkan diisi oleh bantuan teman-temanku, aku langsung masuk ruangan. Ibuku juga dikabari oleh temanku. Berhubung saat itu hari Jumat, malam itu juga Ibuku langsung mencari bis untuk ke Semarang. Malam hari itu aku tak bisa tidur, yang kulakukan hanya menonton televisi saja. Kedua temanku yang berjaga juga tidak tidur karena mungkin aku saja belum tidur, masa mereka tidur duluan. Aku mencoba untuk tidur 5 atau 15 menit, ternyata berhasil. Aku terbangun karena keringat deras mengucur dan batuk-batuk. 
Singkat cerita, selama aku dirawat banyak sekali teman-teman dan warga kimia yang datang menjenguk. Aku senang sekali ternyata mereka masih peduli dan perhatian padaku. Aku mendapat dokter bernama Eka Yudhanto. Dokter ini sangat supel dan dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku mulai menjalani serangkaian rekam medis. Seperti rontgen, ECHO, dan yang lain. Hasilnya, tindakan yang harus dilakukan adalah kemoterapi. Karena kami sekeluarga benar-benar masih terlalu awam untuk ini dan banyak orang di internet bilang bahwa kemoterapi banyak menimbulkan resiko daripada hasil yang memuaskan.
Pendek cerita, aku saat itu memang sudah terlalu parah untuk memutuskan tidak pada kemoterapi. Karena selain kemoterapi, kami sekeluarga memang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi saat itu dokter Eka membawa pasien kanker payudara datang ke ruanganku. Pasien ini saat itu sudah menjalani kemoterapi selama 3 kali per 6 kali kemoterapi. Aku bertanya bagaimana rasanya dan resikonya, dia menjawab tidak apa-apa demi kesembuhan. Memang sudah terlihat perubahan pada kanker di payudaranya. 
Karena harus malam itu kami memutuskan, maka diputuskan aku menjalani kemoterapi, sebanyak 12 kali. Jadwal itu membuat aku harus cuti kuliah pada semester 6. 

Jumat, 22 Maret 2013

Awal sesuatu terjadi #4

setelah berhenti pake propolis, aku pulang ke Tangerang karena bertepatan dengan bulan libur semester..waktu itu aku manfaatin buat berobat alternatif ke Jeng Anna yang ada di Jakarta..Dari jeng anna itu dapet ramuan berupa kapsul dan jamu dari rempah2 yang harus direbus..jamu itu di konsumsi tiap 2 bulan sekali..jadi tiap 2 bulan sekali aku harus ke Jakarta buat nebus jamu baru lagi..Perjuangan buat ngerebus jamu dan minum kapsul yang harus dikonsumsi pagi siang dan sore itu kerasa banget....apalagi saat itu dapur kosan ga tiap saat dibuka, karena nyatu sama rumah ibu kos..Jeng Anna bilang kalo penyakit ini bisa sembuh setelah konsumsi 3 paket..berarti konsumsi selama 6 bulan...karena pingin banget sembuh, aku telaten banget konsumsi jamunya..Selai nn jamu, ada sarang semut juga yang harus direbus..memang sangat banyak yang harus diminum, tapi buat sembuh apapun diperjuangkan bukan?Ditambah lagi,  ada makanan pantangan yang harus aku turutin..dan karena ada daftar makanan pantangan, aku harus masak sendiri menu makanan tiap hari...Saat itulah aku sibuk tiap pagi ke pasar untuk beli sayur atau sekedar tempe, tahu dan telur..bumbu2 pun aku buat sendiri..bener2 ngerasa mandiri saat itu karena ga boleh makan sembarangan...nasi goreng aja buat sendiri...ada daftar list yang masih ku ingat..yaitu boleh makan telur ayam, tapi harus telur ayam kampung dan hanya putihnya aja, kuningnya dibuang..bingung kan?makan ikan pun hanya ikan gurameh yang boleh...list itu memang lebih banyak menganjurkan aku makan umbi2an dan makanan yang direbus..benar2 perjuangan sekali..Setelah 2 paket aku konsumsi, ternayata benjolan itu bertambah disekitar ketiak..memang saat itu aku tetap sibuk berorganisasi, jadi istirahatpun kurang..mungkin itu yang jadi penyebabnya adanya benjolan baru disekitar ketiak..akhirnya dengan penolakan yang halus saat itu, aku berhenti mengkonsumsi herbal dari Jeng Anna. Pemberhentian mengkonsumsi herbal jeng anna itu terakhir bulan November.. Sehingga bulan Desember harus sudah ada alternatif pengobatan pengganti. Saat itu ibu dapat informasi ada pengobatan alternatif di daerah Paku Aji, sekitar Sepatan.. Yah, jaraknya lumayan jauh dan saat itu kita menempuhnya hanya dengan motor, berpanas2an dan hanya berdua. Darisana aku hanya diperiksa dengan sebuah kapas yang dibasahi air mineral sedikit kemudian ditempelkan dibenjolan yang saat itu berada di leher sebelah kanan. Selain itu, ada juga pantangan makanan yang diberikan dan kami juga disarankan untuk membayar semacam sumbangan untuk anak yatim sesuai berat dan tinggi badan ku.. Selain itu juga, ada campuran rempah2 yang harus dioleskan di benjolan itu dan sangat aneh.. Campuran itu berupa telur kodok, daun2an dan entah apalagi aku lupa. Dan akhirnya kami pulang. Perjalanan jauh mungkin sangat terasa bagi kami saat itu sehingga pengobatan itu tidak terlalu lama aku jalani, karena kau tahu rasanya benjolan yang ada ditubuhmu diolesi rempah2 yang tidak jelas dan bleber2?tidak enak rasanya...
maap Sobat, mungkin ceritaku bagian ini agak mengacau karena aku hanya ingin menceritakan pengalamanku, sebelum pengalaman2 lain hadir dalam hidupku saat ini..jadi cerita singkat tapi aku usahakan detail akan aku ceritakan padamu.
Setelah merasa kurang cocok dengan pengobatan ini, kami mencoba pengobatan dengan salat tasbih yang dilaksanakan pada kamis malam dan minggu pagi..kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah..dari sinilah aku mengenal yang namanya salat tasbih dan saat itu pun aku di rukyah..tidak seperti rukyah yang biasa aku lihat di televisi yang sampai2 kesurupan, rukyah ini biasa saja..memang ada sih pasien yang teriak2 karena memang ada yang menhuni di dalam tubuhnya..yah tidak tahu juga lah aku..
Dari pengobatan salat tasbih itu aku juga diberi minum air outih yang sudah didoakan 1.5 L,  1 botol air berwarna hijau dan bubuk seperti susu yang harus diseduh untuk dikonsumsi..beberapa hari aku mengkonsumsi itu dibarengi dengan aku praktek kerja lapangan di LIPI Serpong, aku merasa biasa2 saja...tidak baikan, tidak pula terjadi kemunduran. Namun setelah PKL selesai dan aku kembali ke Semarang, rasa sesak mulai terasa di badanku..

Rabu, 13 Februari 2013

Awal dari sesuatu terjadi #3

Kenapa aku membagi cerita ini secara serie Sobat,? agar kau tau, agar kalian tahu langkah2 yang telah aku dan keluargaku jalani ditengah kebingungan ini dan aku hanya sekedar ingin bercerita...selain mengeluhkan semua ini pada sang pencipta, aku hanya ingin sekedar bercerita, berbagi pengalaman hidupku...

Setelah divonis aku harus menjalani kemoterapi, aku dan keluarga masih mencari tau apakah harus dilakukan tindakan kemoterapi tersebut.. karena saat itu ibuku sedang rajin mengikuti freelance dari Tianshi yang menjual produk2 suplemen kesehatan dan kebetulan saat itu ada saudara dekat yang mengetahui aku mengidap penyakit KGB ini, aku dibawa ke klinik Tianshi dan mengkonsultasikan hasil dari biopsi tersebut.. kami bawa hasil biopsi yang nantinya akan di analisa dan berbeda dengan klinik dokter lain yang setelah pulang membawa resep obat berbagai merk, klinik dokter Tianshi ini nantinya kami diberikan resep suplemen dari Tianshi. Saat itulah aku mencoba pengobatan untuk mengkonsumsi suplemen Tianshi selama 3 bulan dan menyatakan untuk tidak dilaksanakan tindakan kemoterapi. Sebelumnya juga sudah ada pasien penderita KGB sembuh setelah mengkonsumsi suplemen Tianshi itu. Jadilah aku berencana akan mengkonsumsinya selama bulan Maret 2011- Mei 2011.
Libur telah usai, saatnya kembali ke Semarang..aku mengkonsumsi suplemen Tianshi tersebut berikut memantang makanan yang harus dimakan..seperti tidak mengkonsumsi seafood, junkfood, mengkonsumsi sayuran tiap hari, aku lakukan sembari mengkonsumsi suplemen Tianshi tersebut.. Bulan pertama tubuhku masih dapat melaksanakan metabolismenya dengan baik dan benar..menyambut bulan kedua pemakaian, makanan yang telah aku makan keluar kembali sesaat setelah aku mengkonsumsi suplemen dari Tianshi. Mungkin memang ini dimulainya reaksi suplemen terhadap penyakitku, pikirku saat itu. Aku terus mengkonsumsinya sampai pada suatu waktu pengeluaran makanan (baca:muntah) sudah terlalu sering aku alami. Bahkan memakan makanan biasa pun-telur atau tempe goreng-akhirnya akan keluar lagi setelah aku mengkonsumsi suplemen Tianshi tersebut.. Menjelang 3 bulan pemakaian, aku lapor pada ibuku di rumah bagaimana keadaanku saat itu. Aku juga menginfokan hal tersebut pada kakakku yang memang sudah tidak tidak tinggal lagi bersama ibuku melainkan dengan istrinya di Jakarta. Karena dampak yang agak sedikit mengganggu aktifitasku itu, kakakku menawarkan obat propolis, kali ini berasal dari air liur lebah yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit kanker.. Memang sudah ada yang terbukti sembuh.. Propolis ini lain daripada yang lain, karena bentuknya tidak kapsul seperti suplemen Tianshi tapi berbentuk cairan. Bentuknya dikemas seperti obat tetes mata, pemakaiannya pun dalam satu hari 3 kali minum dimana sekali minum butuh 6 tetes dan itu sangat pahit, jadi harus ditambahkan madu. Setiap pagi berangkat kuliah, aku membawa air kemasan aqua 330 mL yang sebelumnya udah aku teteskan propolis 16 kali, 1 botol air mineral itu aku bagi jadi 3 bagian untuk pagi, siang dan malem..awalnya pahit, tapi aku tahan dan akhirnya terbiasa..batuk dan muntah yang aku alami saat mengkonsumsi suplemen Tianshi berangsur2 berkurang,,,sampai suatu saat kiriman propolis dari kakakku berhenti....

Awal dari sesuatu terjadi #2

Sesuatu yang merubah hidupku terjadi...
Entah persisnya waktu yang keberapa detik, menit atau jam dan tanggal... Aku melihat benjolan di daerah leherku sebelah kanan.. Aku tidak mengambil pusing saat itu karena saat aku lapor pada ibuku pun beliau berpikir itu hanya sebuah benjolan. Besarnya hanya seperempat telur bulat..
Sampai suatu saat benjolan itu membuat risih kegiatanku saat menengok ke sebelah kanan, terasa makin membesar saja.. Dan aku ingat saat itu bulan Februari tahun 2011, aku memprediksikan ada yang tidak beres, segeralah saat itu aku dan ibuku memutuskan untuk memeriksa penyakit apa yang sedang aku alami.. Bulan Februari saat itu aku sedang kebetulan berada di Tangerang karena memang jadwal perkuliahan libur, peralihan dari semester 3 (ganjil) ke semester 4 (genap). Awal mula aku periksakan diri ke Rumah Sakit Melati Tangerang, melewati dokter umum-yang saat itu juga bingung apa sebenarnya penyakitku ini. Kemudian dirujuk ke salah satu dokter penyakit dalam yang mereka miliki dan cerita singkatnya sang dokter spesialis dalam yang mereka miliki menyatakan benjolan itu adalah sebuah "massa" yang harus ditindaklanjuti apa yang dimaksud dengan massa tersebut. Dengan berbekal penjelasan singkat yang diberikan dokter penyakit dalam tersebut, aku mendengar kata-kata asing yang beru pertama kali kudengar, yaitu biopsi, kelenjar getah bening, limfoma hodgkin, operasi sumsum tulang belakang. Saat itu wajahku hanya memperlihatkan ekspresi keheranan. Apa itu? Apakah arti dari kata-kata yang baru kudengar saat itu? Berbekal rasa keheranan yang sanagt tinggi, google dan alat pencari internet, aku mendapatkan bahwa arti dari kata-kata tersebut jika diartikan secara singkat adalah "aku terkena penyakit kelenjar getah bening (KGB)". Begitu luas, apakah aku ini hanya terkena tumornya atau kanker, tindakan apa yang harus dilakukan mengingat tidak ada sejarah turun temurunku yang mengidap penyakit seperti itu. 
Penyelidikan kasus penyakitku ini tiba-tiba mengalir begitu saja.. langkah-langkah yang harus dilakukan, kemana jalur yang akan ditempuh, karena memang jujur sekali keluargaku pun bingung apa yang harus dilakukan. Ibuku pun bingung karena masih tidak tahu apa penyebab aku mengidap penyakit ini. Jangankan ibuku, aku pun tidak tahu ! Saat itu aku masih merasa semua akan baik2 saja..

Tahap awal yang kami lakukan saat itu adalah menuruti apa yang dikatakan RS Melati. Pihak mereka berusaha semampunya untuk tahu sebenarnya penyakit apa yang kuderita. Mulailah pemeriksaan rontgen dimulai. Karena hasil rontgen masih tidak dapat menjelaskan detail penyakitku, aku disarankan menjalani CT Scan di RS berbeda, yaitu RS Usada Insani yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Sebelum menjalani CT Scan tersebut, kami berkonsultasi pada dokter yang disarankan RS melati. Setelah menjalani CT Scan yang ternyata harganya 2x lipat dengan rontgen, kami menjalani konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam tersebut. Jawaban beliau sangat singkat saat itu, karena menurutnya hasil CT Scan tidak cukup, maka aku harus menjalani biopsi. Sepenangkap keluarga kami yang jujur saat itu masih bingung apa yang harus dilakukan, biopsi adalah suatu langkah medis berupa pengambilan sampel benjolan yang ada di leher sebelah kananku iniuntuk nantinya hasil biopsi tersebut dianalisis, penyakit apa sebenarnya yang aku alami. Ini berbeda dengan operasi yang artinya mengangkat semua benjolan tersebut, biopsi hanyalah mengambil sebagian kecil dari benjolan tersebut untuk menganalisis penyakitku. Setelah melakukan biopsi, aku sempat dirawat sehari dan dapat pulang keesokan harinya karena hasil biopsi pun ternyata membutuhkan waktu seminggu untuk melihat hasilnya. Cukup sulit menjaga bekas jahitan di leher sebelah kananku-bekas biopsi- karena tidak boleh terkena air dan harus berganti kain kasa tiap hari selama seminggu. 
Seminggu kemudian, aku dan ibuku kembali ke RS Usada Insani dengan diiringi doa semoga semuanya akan baik-baik saja. Menanti dan menanti antrian, akhirnya namaku dipanggil. Dokter memeriksa hasil CT Scan, menjelaskan seadanya dan terdiam sambil menulis sesuatu di kertas. Terdiam tanpa kata dan selayaknya pasien yang berkonsultasi pastinya bertanya bagaimana hasil CT Scan dan biopsinya. dokter tersebut hanya mengatakan,
"Selanjutnya ya harus kemoterapi"
Bukan, bukan itu yang ingin aku dan ibuku ketahui! Aku ingin tahu sebenarnya apa penyakitku, bagaimana itu bisa terjadi!Bukan langkah selanjutnya yang baru aku dengar saat itu istilah kemoterapi. Karena aku merasa memiliki hak sebagai pasien untuk bertanya, aku tanyakan semua hal yang aku ingin tahu. Dari runtutan kata perkata, kalimat perkalimat yang aku pikir tidak dimengerti sama sekali oleh pasien awam seperti kami, yang ada dipikiranku aku terkena tumor kelenjar getah bening. Hanya tumor karena ukurannya masih kecil. Tidak, sebenarnya tidak hanya itu yang aku pikirkan. Aku bingung! Kau tahu bagaimana perasaan ibuku saat itu! Wanita yang hanya berpendidikan lulus SMEA, mendengar anak perempuan satu-satunya terkena penyakit aneh ini. Tumor?
Saat itu kata "tumor" mulai terbiasa terdengar di setiap pembicaraan keluarga kami.

Perlu kalian pahami sobat, saat ini, detik ini pun aku masih terkejut apa yang terjadi pada diriku saat Februari tahun 2011 itu.. yang dapat aku lakukan saat itu adalah mencari dan terus mencari tahu apa arti kemoterapi, dampaknya, apa harus langkah kemoterapi itu dijalani, harus kemana perjalanan ini, seperti bayi baru lahir yang dipaksa ibunya belajar menari. Tidak tahu langkah.

Jumat, 07 Desember 2012

Awal dari sesuatu terjadi #1

Aku seorang yang bebas, yang kuat, itu yang ada dipikiranku saat aku baru menjadi mahasiswa di Universitas Diponegoro, Semarang sekitaran tahun 2009. Dimana di Semarang ini, aku benar2 tidak mempunyai saudara, benar2 tempat yang asing bagiku.  Karena benar2 asing, tempat kosku pertama kali adalah wisma dimana yang tinggal disitu adalah cewek2 berjilbab panjang. Setahun aku terjebak-begitu biasa kubilang, disana. Sementara itu, aku merasakan kebebasan, karena aku adalah seorang perantauan. Apalagi di Semarang ini aku diberi fasilitas sepeda motor Honda Supra Fit saat itu. Aku senang sekali karena memang baru saat kuliah ini aku bisa mengendarai motor. Dengan bermodalkan motor tersebut, kadang setelah selesai kuliah, aku menjelajahi daerah disekitaran kampus. Toh kalo nyasar aku bisa tanya, pikirku saat itu. Kegemaranku diberikan kebebasan mengendarai motor itu terasa masih kurang pas jika hanya menjelajahi daerah2 yang dekat2 saja. Apalagi saat itu aku sudah lihai sekali mengendarai Fito, nama yang aku berikan untuk motor Honda Supra Fit ku. Alhasil saat hari libur, aku menjajal mengendarai motor dengan rute Semarang-Wates yang ditempuh sekitar 4 jam. Wates ini adalah daerah dimana nenek dan kakek dari ibuku tinggal, letaknya antara Jogjakarta dan Purworejo. Perjalanan pertama saat itu aku salah arah alias nyasar. Aku beritahukan padamu, Sobat. Jika kamu baru pertama kali melakukan perjalanan jauh, jangan tertipu dengan plang pengarah jalan. Saat pertama kali kamu menemukan plang dan disebutkan disitu tempat yang kau tuju, jika kau melewatinya maka didepan pasti ada plang lagi yang menunjukkan tempat yang kau tuju dan jika kau mengikuti plang yang kedua, itu akan lebih dekat. Sayangnya saat itu aku mengikuti plang yang pertama dan alhasil aku melewati daerah dengan jalan meliuk2, seperti melewati pegunungan. Padahal saat itu sudah dekat, aku tinggal menuju daerah Jogjakarta dan sebelum masuk kota, aku harus berjalan kearah Purworejo. Jalan meliuk2 tersebut memang jalan ke Wates, tapi sebagai pemula dan aku tidak tahu kapan jalan itu berakhir (karena terasa lama sekali), jalan itu terasa lama sekalii.. Sesekali aku bertanya pada orang sekitar situ, mereka bilang, "iya benar, ini kearah wates. mbak luruuuuus saja". Akhirnya setelah kesabaranku dan keikhlasanku aku sampai kedaerah yang kukenal. Oya, daerah yang jalannya meliuk2 tadi bernama Nanggulan, Sobat. Sampai di tempat kakek dan nenekku, ada ibu dan saudara2ku yang kebetulan juga sedang berlibur. Mereka menatap tidak percaya jika aku bisa naik motor perjalanan Semarang-Wates karena selama ini aku tidak bisa naik motor. Karena keasikan dengan hobi baruku ini, aku sering datang berlibur ke tempat mbahku di Wates itu menggunakan motor. Apalagi saat itu Fito diputuskan untuk dijual dan digantikan dengan Honda Beat yang akhirnya dijual. Saat itu mbahku memiliki sepeda motor banyak dirumah tapi tidak terpakai, karenanya diberikan satu kepadaku dan aku harus mengambilnya dengan melakukan perjalanan Wates-Semarang mmenggunakan motor. Pergantian motor dari mbahku itu berlangsung 2 kali Sobat. Dan sekarang yang terakhir yang sedang aku gunakan, sepeda motor Honda Supra-X keluaran lama.
Oh iya Sobat, aku ingin ceritakan padamu tentang pengalamanku saat aku mengambil motor terakhirku yang bernopol AB 2411 JC itu. Saat perjalanan menuju Semarang, memang saat itu musim sedang hujan dan aku masih tidak memiliki mantel, beli dijalan saja pikirku waktu itu. Belum sempat aku membeli mantel, saat sampai daerah Magelang, hujan turun dengan derasnya. Aku terus mengendarai motorku dengan perlahan sambil melihat2 kearah pinggir jalan kali saja ada toko jual mantel yang buka. Ternyata sampai aku mau keluar Magelang, nihil Sobat. Memang saat itu sudah pukul 5 sore dan kebetulan hari Minggu. Toko2 tutup gasik pada hari itu. Aku bertahan Sobat, aku terus saja mengendarai perlahan sambil mengusap2 kacamataku yang bermbun kena air hujan. Kadang pula mengusap2 tanganku yang diterjang hujan terasa seakan ditusuk2 oleh derasnya hujan.. Memasuki kawasan pegunungan dimana tidak ada orang berjualan aku mulai mempercepat laju kendaraan karena hari pun sudah mulai malam.. Sampai daerah Ambarawa semua toko tutup, aku bertahan Sobat. Entahlah saat itu dari Magelang tadi, hujannya sangat awet. Kadang gerimis rintik, kadang hujan deraspun menerpa aku dan sepeda motor yang baru saja ku ambil dari mbahku. Sempat aku berteduh di POM daerah Ambarawa karena keadaanku yang menggigil. Aku menumpang ke toilet saat itu. Karena rasa menggigilku tidak kunjung berhenti, aku meneruskan perjalanan karena hari pun sudah benar2 gelap. Terus aku berjalan hingga memasuki daerah Bandungan, badan masih menggigil Sobat, gigiku gemeretak satu dengan yang lain, celana jins yang kupakai sudah basah, terasa berat dipakai. Untungnya saat itu hujan sudah tidak terlalu deras, tapi tetap saja jalanan masih licin, jadi tidak bisa seenaknya ngebut. Yah, aku menahan saja rasa kedinginanku saat itu. Akhirnya sampai juga di wisma Sobat dan untungnya pintu belum ditutup(memang ada jam malam wisma dimana jika sudah melewati jam malam tersebut, pintu akan ditutup). Sampai disana tidak ada yang menyambutku dan bertanya padaku mengapa kebasahan seperti itu. Tak peduli juga dengan orang2 disana, aku cepat2 membersihkan badan dan ganti pakaian, dan langsung tidur. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan terasa dingin sekali..
Iya itu sedikit pengalaman dan tak pernah kulupakan. Karena pengalaman tersebut dan rasa puas anak muda, setiap aku pulang ke tempat mbahku di Wates, selalu naik motor. Bahkan lebaran pun aku beranikan diri untuk mengendarai sepeda motor untuk pulang ke Wates.
Namun, sesuatu terjadi....... Hal yang tidak pernah aku pikirkan sama sekali, suatu hal yang tidak kuinginkan hadir dalam hidupku tiba2 datang dan masih menemani hingga saat ini.