Senin, 01 April 2013

1 April :)

Hari seperti biasanya bapak ke rumah untuk nengokin aku, bagaimana keadaanku saat ini. Tapi ada yang berbeda karena hari ini adalah hari Senin tanggal 1 April. Bapak ulang tahun, tapi nggak tahu yang keberapa. Karena bapak sampai rumah udah jam setengah 8 dan aku juga udah selesai makan-biasanya ditungguin sampe selesai makan, Bapak langsung pamit berangkat kerja lagi. Sebelumnya aku tanya dulu apa bener ulang tahun tanggal 1. Yah, bapak sempet ngelak sih, bilangnya itu mah orang-orang Yahudi. Itu sih perayaannya yang ikutan orang Yahudi pak, tapi Bapak tetep lahir tanggal 1 kan? jelasku. Aku memberikan hadiah untuk Bapak, isinya 2 pasang kaos kaki hitam. Kenapa kaos kaki, hitam pula? Karena bapak aku amatin tiap pergi ke kantpr selalu pake kaos kaki hitam, bukan krem atau putih dengan alas hitam :)

Aku berdoa semoga di hari ulang tahun bapak kali ini, tidak hanya kali ini saja aku mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah. Aku ingin di 1 April tahun depan nanti akan ada kesempatan seperti ini lagi. Semoga setelah sembuh nanti, aku masih bisa bertemu Bapak.

Awal sesuatu terjadi #5

Setelah PKL yang memakan waktu sebulan, yang berakhir dengan tidak langsung dikumpulkannya laporan PKL, aku sudah harus pasti kembali ke Semarang untuk melanjutkan kuliah. Saat mulai masuk perkuliahan, tiba-tiba aku merasakan keanehan pada diriku. Saat aku masuk kamar kos-kosan, aku merasakan dadaku sesak sekali, padahal hanya berjalan sebentar. Apa yang aku rasakan itu aku abaikan karena aku pikir hanya kecapean saja. Setelah waktu berlalu dan sampai di akhir Maret, aku mulai penasaran apa yang terjadi padaku. Aku kemudian bercerita hal ini dengan temanku, Okky atau biasa kupanggil Oci. Aku ingin rontgen, seruku saat itu. Aku pikir apakah ada flek diparu-paruku? Aku meminta dia dan 2 teman cowok untuk mengantar ke Rumah Sakit St. Elisabeth. Besok malam harinya, kami berempat menuju kesana. Setelah masuk ruang UGD, dicek tensi darahnya dan ditanyai apa gejalanya sang dokter memutuskan aku untuk dirawat. Aku menceritakan bahwa aku memiliki penyakit kelenjar getah bening, sulit untuk tidur dan bernafas. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan sehingga mau saja aku dirawat. Dan baru kusadari jika memang harus dirawat, berarti aku harus diinfus!! Itu adalah kali pertamanya aku diinfus lagi semenjak tindakan biopsi yang pernah kulakukan dulu. Itu adalah hari pertamaku diinfus saat di Semarang dan tidak ada Ibuku. Saat itu aku menangis sambil memegang erat lengan perawat laki-laki disampingku, benar-benar seperti anak kecil. Setelah semua data yang dibutuhkan diisi oleh bantuan teman-temanku, aku langsung masuk ruangan. Ibuku juga dikabari oleh temanku. Berhubung saat itu hari Jumat, malam itu juga Ibuku langsung mencari bis untuk ke Semarang. Malam hari itu aku tak bisa tidur, yang kulakukan hanya menonton televisi saja. Kedua temanku yang berjaga juga tidak tidur karena mungkin aku saja belum tidur, masa mereka tidur duluan. Aku mencoba untuk tidur 5 atau 15 menit, ternyata berhasil. Aku terbangun karena keringat deras mengucur dan batuk-batuk. 
Singkat cerita, selama aku dirawat banyak sekali teman-teman dan warga kimia yang datang menjenguk. Aku senang sekali ternyata mereka masih peduli dan perhatian padaku. Aku mendapat dokter bernama Eka Yudhanto. Dokter ini sangat supel dan dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku mulai menjalani serangkaian rekam medis. Seperti rontgen, ECHO, dan yang lain. Hasilnya, tindakan yang harus dilakukan adalah kemoterapi. Karena kami sekeluarga benar-benar masih terlalu awam untuk ini dan banyak orang di internet bilang bahwa kemoterapi banyak menimbulkan resiko daripada hasil yang memuaskan.
Pendek cerita, aku saat itu memang sudah terlalu parah untuk memutuskan tidak pada kemoterapi. Karena selain kemoterapi, kami sekeluarga memang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi saat itu dokter Eka membawa pasien kanker payudara datang ke ruanganku. Pasien ini saat itu sudah menjalani kemoterapi selama 3 kali per 6 kali kemoterapi. Aku bertanya bagaimana rasanya dan resikonya, dia menjawab tidak apa-apa demi kesembuhan. Memang sudah terlihat perubahan pada kanker di payudaranya. 
Karena harus malam itu kami memutuskan, maka diputuskan aku menjalani kemoterapi, sebanyak 12 kali. Jadwal itu membuat aku harus cuti kuliah pada semester 6.